blog.nitbot.com

Sistem navigasi dalam pesawat merupakan salah satu hal yang sangat vital. Dengan adanya sistem ini, pesawat dapat dijaga pada jalur yang harus dilaluinya, tidak tersesat, sehingga penumpang dapat sampai ke tujuan dengan aman. Banyak sistem yang mendukung sistem navigasi pesawat, mulai dari sensor inersia yaitu gyroskop, compas sebagai attitude sensor, maupun sensor navigasi berupa radio untuk pengukuran jarak, posisi, sensor radar cuaca, dan memunculkan data terrain dari permukaan bumi.   

Pada pembahasan kali ini, akan dibahas secara singkat sensor sensor navigasi radio yang ada di pesawat, yaitu:



1. VOR Navigation System 
VOR singkatan dari Very High Frequency (VHF) Omnidirectional Radio Range, merupakan sistem navigasi yang menggunakan gelombang radio pada frekuensi 108-117.975 MHz. Stasiun VOR bisa terletak di mana saja sepanjang jalur pesawat. Dengan menangkap data pancar stasiun VOR, maka pesawat dapat mengetahui sudut deviasi pesawat terhadap jalur yang dilewati.

2. Automatic Direction Finder (ADF) 

Automatic direction finder (ADF) adalah suatu alat navigasi yang berfungsi sebagai petunjuk arah yang menunjukkan arah relatif pesawat terhadap titik tujuan di darat. ADF digunakan bersama dengan non-directional beacon (NDB) yang berbasis ditanah, instrumen menampilkan jumlah derajat searah jarum jam dari hidung pesawat ke stasiun yang diterima. ADF memiliki keuntungan bila dibandingkan dengan alat navigasi VOR dalam hal penerimaan sinyalnya tidak terbatas pada line of sight. Sinyal ADF mengikuti kelengkungan bumi. Maksimum jarak tergantung pada kekuatan NDB. 
ADF (Automatic Directional Finder) menggunakan frequensi rendah sampai menengah, dari frequensi 190 Khz sampai 1750 Khz, ADF dapat menerima dua sinyal radio, yaitu sinyal AM dan NDB (Non-Directional Beacon), pada saluran sinyal komersial disiarkan pada frekuensi 540-1260 Khz, dan jika pada NDB beroperasi pada saluran frekuensi 190-535 Khz. Beberapa pesawat terbang yang dilengkapi dengan ADF, dapat menerima sinyal frekuensi menengah mulai dari 190Khz sampai dengan 1750 Khz. 


3. Radio Magnetic Indicator (RMI) and Distance Measuring Equipment (DME) 
Radio Magnetic Indicator merupakan instrumen gabungan dari kompas, ADF dan VOR, sehingga pilot dapat mengetahui sudut pesawat terhadap arah mata angin.

DME (Distance Measuring Equipment) adalah alat navigasi udara yang berfungsi memberikan informasi jarak kepada pesawat, jarak yang di berikan adalah sudut miring antara pesawat dan transmiter dari DME ini dan bukan jarak sesungguhnya antara pesawat dan DME. Fasilitas DME biasanya dipasang melengkapi VOR untuk memberikan informasi kepada penerbang tentang jarak pesawat terhadap DME.
DME beroperasi pada frekuensi VHF sehingga pancarannya line of sight. Ketika pesawat memilih frekuensi VOR atau ILS suatu bandara, maka pesawat tersebut secara otomatis juga akan mendapatkan frekuensi dari DME. DME beroperasi dalam 252 channel dengan range frekuensi 962 sampai 1213 MHz. channel-channel ini terdiri dari beberapa jenis frekuensi dan spasi antara pasangan pulsa yaitu pada 126 pasangfrekuensi terdapat “X” channel dan pada 126 pasangan frekuensi lainnya terdapat “Y” channel. Lebar pulsa yang dipakai adalah 3,5 mikrosecond dengan efisiensi 0,5 mikrosecond. Pada “X channel jarak antara pulsa adalah 12 mikrosecond pada interogator dan pulsa jawaban. Pada “Y” channel jarak antara pulsa adalah 36 mikrosecond pada interogator dan 30 mikrosekond pada pulsa jawaban. Jarak antara frekuensi interogator dengan pulsa jawaban adalah 63 MHz.
DME biasanya di pasang pada stasiun VOR untuk melengkapinya (komplementer) sehingga posisi pesawat terbang secara teliti dapat terus menerus diketahui para penerbang. (VOR memberikan informasi dalam derajat sedangkan DME memberikan informasi jarak dalam NM, sesuai koordinat polar dalam penenttuan posisi pesawat terbang). DME juga dapat dipergunakan pada fasilitas navigasi udara ILS (Instrument landing System) guna memberikan informasi jarak secara terus menerus/tak terputus kepada penerbang pada saat pendekatan/pendaratan.

4. Instrument Landing Systems (ILS) 

Instrument landing system (ILS) merupakan instrument radio yang fungsi sebagai sistem pemandu pendaratan pesawat udara. Sistem ini membantu pesawat udara untuk mendarat tepat pada centre line (garis tengah) runway dan dengan sudut pendaratan yang tepat. Pemanduan dilakukan agar pilot mengetahui jarak pesawat terhadap area pendaratan (touchdown zone) pada runway. Pemanduan dilakukan untuk mengatur posisi kanan kiri (center line) pesawat, sehingga dapat landing dengan tepat di garis tengah landasan. Pemanduan dilakukan untuk mengatur posisi atas bawah pesawat, sehingga dapat landing dengan tepat pada sudut ± 30 terhadap landasan.

5. Area Navigation (RNAV) and Radio Altimeter 
RNAV merupakan kepanjangan dari Area Navigation. RNAV adalah metode navigasi yang mengijinkan pesawat terbang untuk terbang dalam dalam lintasan yang diinginkan, dalam cakupan kerja dari stasiun navigasi bumi (VOR,DME, ADF).Tanpa RNAV, pesawat harus terbang dalam lintasan yang mengikuti posisi stasiun navigasi bumi. Dengan memakai RNAV, pesawat dapat terbang dalam lintasan yang lebih efisien. Tidak harus melintasi stasiun2x navigasi di bumi, namun cukup melintasi titik2x imajiner yang disebut waypoints.


6. Radar Beacon Transponder 
Digunakan di ATC untuk menunjukan posisi pesawat

7. Collision Avoidance Systems 
TCAS (Traffic Alert and Collision Avoidance System) bisa disebut juga ACAS (Airborne Collision Avoidance System) digunakan untuk mendeteksi pesawat lain yang melintas agar tidak terjadi tabrakan.

8. Weather Radar 
Cukup Jelas.

9. Emergency Locator Transmitter (ELT) 
adalah suatu perangkat suar penentu lokasi untuk pesawat. ELT merupakan bagian standar dari peralatan darurat pada pesawat, perahu dan bahkan penggunaan pribadi. ELT merupakan perangkat yang digunakan untuk mencari dan menyelamatkan korban kecelakaan pada transportasi udara, laut dan darat. ELT Berfungsi sebagai pemancar sinyal radio agar lokasinya atau tempat keberadaannya dapat diketahui. Emergency Locator Transmitter (ELT) adalah alat pemancar yang menggunakan baterai sebagai sumber tenaganya yang harus terinstall terlebih dahulu pada pesawat sebelum pesawat tersebut didaftarkan dan diijinkan untuk beroperasi. 
ELT didesain agar bisa memancarkan sinyal radio audible pada berbagai frekuensi radio ketika ada sejumlah gaya tertentu yang dialami oleh pesawat, misalnya gaya gravitasi pada besaran tertentu akibat keadaan yang dialami pesawat. Tidak hanya gaya tertentu, muatan baterai yang rendah dan fenomena lainnya juga bisa mengaktivasi ELT untuk memancarkan sinyalnya. Pemancar ELT akan mendeteksi gaya apapun yang tidak biasa yang umumnya akan diasosiasikan pada terjadinya benturan pada badan pesawat. Apabila Emergency Locator Transmitter (ELT) sudah teraktivasi, maka selanjutnya sinyal akan terus dipancarkan pada frekuensi 121.5 MHz atau 406 MHz yang kemudian akan dimonitor melalui system satelit COSPAS-SARSAT. 
Jika pemancar ELT dirawat dengan baik, maka alat tersebut mampu memancarkan sinyal selama 48 jam pada suhu minus 20 derajat Celcius. Saat ELT mulai memancarkan sinyal, maka satelit akan langsung menangkapnya dalam hitungan menit dan lokasi pun terdeteksi. Apabila Emergency Locator Transmitter (ELT) tidak tertangkap oleh radar, ada kemungkinan alat pemancar sinyal ELT mengalami kerusakan bersamaan dengan kejadian atau antenanya patah. Atau bisa juga, sebenarnya ELT telah teraktivasi, namun karena pesawat tenggelam dengan sangat cepat (kurang dari 50 detik), maka alat ELT tidak dapat bekerja dengan baik. Menurut para pakar, sinyal ELT tidak bisa dipancarkan jika alat sudah terendam oleh air. 

10. Long Range Aid to Navigation System (LORAN) 
-

11. Global Positioning System (GPS)
Cukup Jelas.

Semoga pembahasan ini dapat bermanfaat. ^_^d


blog.nitbot.com

0 Comments